Dosa-Dosaku Terhadap Raditya Dika

Tadi sempat beres-beres brangkas pribadi tapi bukan uang isinya hehe namun cuma berkas atau file lama yang sudah nggak keurus seperti nota, sertifikat, dll. Tapi tiba-tiba saya tertarik untuk mengambil sebuah airport tax berjumlah 2 lembar karena saya penasaran ini punya siapa? Soalnya sudah lama banget nggak naik pesawat. Setelah saya lihat ternyata atas nama Raditya Dika dan Wira Irawan. Akhirnya saya jadi inget kalau ini merupakan sisa-sisa dulu waktu kerjasama event dengan Raditya Dika si artis multitalenta itu waktu dulu stand up comedy di Kediri. Oleh karena itu kali ini saya ingin mengingat masa-masa suka dan duka waktu kerjasama event dengan management Raditya Dika.
Airport Tax milik Raditya Dika dan Manager
Pengalaman ini saya dapat sekitar 5 tahun atau lebih tepatnya tahun 2011 silam waktu kampus saya berniat mengundang Raditya Dika untuk stand up comedy. Sebenarnya event ini diselenggarakan sebagai ujian praktek mata kuliah event organizer di kuliah saya soalnya saya merupakan mahasiswa ilmu komunikasi jadi salah satu ujiannya ya seperti itu, mengadakan event. Buat kalian yang pernah lihat Raditya Dika perform di Kediri, itu adalah event yang saya garap bersama teman-teman kuliah. Karena setahu saya si Raditya Dika cuma satu kali saja datang ke Kediri yakni pada saat event yang saya garap tersebut.
Setelah beberapa kali meeting akhirnya saya ditugaskan menjadi tim kreatif dengan tugas membuat acara hingga menghubungi semua talent. Kali ini saya nggak membahas semua talent yang saya undang dan saya cuma fokus ke satu talent yakni Raditya Dika. Berbekal contact person management Raditya Dika yang saya peroleh dari blog Raditya Dika maupun official twitter dari Raditya Dika, kalau instagram Raditya Dika belum tahu sih dulu hehe. Saya akhirnya menghubungi manager Raditya Dika yang bernama Wira Arifin. Mulai dari proposal hingga rundown saya kirim via email. Kemudian saya juga meminta draft kontrak kerja dan juga ratecard Raditya Dika untuk kegiatan offair. Didalam ratecard tersebut juga terlampir sebuah riders atau semacam istilah dalam dunia event organizer yang merujuk pada daftar permintaan artis selama event. Baca juga: Bayaran dari Google Adsense hampir hilang
Riders dari Raditya Dika
Ada hal yang saya agak geleng kepala melihat riders yang dikirim pihak management Raditya Dika, seperti dia meminta pesawat Garuda Indonesia, kemudian menginap di hotel standar internasional dan minimal harus bintang 4. Kenapa saya geleng-geleng kepala? Penyebab utama kembali lagi pada dana hehe. Maklum kita kan mahasiswa bukan sebuah perusahaan event organizer yang mengadakan event semata-mata karena materi atau keuntungan. Kami menggelar event lebih bersifat edukasi. Tapi okelah saya mengiyakan semua riders yang diberikan Raditya Dika meskipun pada akhirnya ada riders yang saya manipulasi atau bahasa kasarnya saya kerjain hehe, penasaran? Baca dulu sampe akhir ya hehe. Bukan maksud apa-apa sih cuma salah satu trik saja dalam mengatasi para artis-artis yang sewenang-wenang sama kita.
Sekitar satu bulanan lebih kami berkomunikasi lewat email dan handphone, setelah pihak management Raditya Dika setuju dengan proposal event akhirnya saya pergi ke Jakarta untuk penandatanganan draft kontrak atau MoU. Sebenarnya penandatangan kontrak bisa lewat email sih tapi pihak dari kami pengen tanda tangannya secara real gitu biar bisa klimaks hehe, akhirnya saya ditemani Kak Bayu yang juga merupakan panitia event melancong ke Jakarta. Kenapa kok Kak Bayu? Karena dia berasal dari Jakarta, jadi nanti misal mau nginap kan nggak perlu ke Hotel hehe. Lebih hemat pastinya. Btw makasih ya Kak Bayu sudah menjadi guide waktu di Jakarta.
Sesuai tanggal yang sudah dijadwalkan akhirnya kami berdua berangkat menuju ibukota. Selama di Jakarta saya tinggal di rumah Kak Bayu di Jakarta Timur. Kemudian saya kembali menghubungi Wira Arifin untuk memberitahukan kalau saya sudah di Jakarta sama menanyakan kapan bisa bertemu. Dia menjawab besoknya sudah bisa bertemu dan kami sepakat bertemu dengan management Raditya Dika di Musium Arsip Nasional di Jakarta Pusat. Kebetulan waktu itu si Raditya Dika juga mau ada shoting salah satu program acaranya Metro TV secara live. Berbekal google map dan tanya orang akhirnya esoknya kami berangkat ke Museum Arsip Nasional menggunakan Busway, lumayan jauh sih menurut saya. Sampe capek sendiri naik turun ganti bis.
Ditengah perjalanan saya mendapat telepon dari Wira Arifin yang meminta ketemuan di Plaza Indonesia saja. Wah.. wah.. nggak like banget ini mah hehe. Akhirnya saya menolak permintaan Wira Arifin tersebut dan saya tunggu saja di Museum Arsip Nasional. Bukannya apa-apa sih, takutnya ntar kalau ketemu di Plaza Indonesia otomatis sambil nongkrong dulu dong di cafe, masak mau berdiri di Parkiran haha. Nah kalau sudah di cafe masak kita yang ngemis suruh bayarin? Yang jelas saya dong yang harus bayarin. Baca juga: Curhat malam ditemani kopi Aceh Gayo
Sambil menunggu Raditya Dika datang kami main ke toko buku Gramedia yang berada di sebelah Museum untuk membeli buku. Akhirnya setelah lama menunggu sekitar jam 3 sore Raditya Dika sampai juga di Museum Arsip Nasional dan saya langsung menemui manager Raditya Dika si Wira Arifin. Orangnya chinese berambut gondrong belah tengah hehe. Kemudian saya serahin berkas-berkas yang hendak ditanda tangani. Waktu itu sih tarif Raditya Dika masih dibilang nggak mahal-mahal banget kalau menurut saya, nggak tahu juga kalau sekarang. yang pasti sangat mahal hehe.
Berikut Benchmark price untuk kegiatan talkshow / stand up comedy / press release / workshop Raditya Dika pada tahun 2011:
  • Kegiatan talkshow / stand up comedy / guest speaker: Rp 5.500.000,- nett (lima juta lima ratus ribu rupiah) di Dalam kota ( JABODETABEK )
  • Kegiatan talkshow / stand up comedy / guest speaker: Rp 6.000.000,- nett (enam juta rupiah) di Luar Kota ( JABODETABEK )
  • Kegiatan Press Release / press con, atau kegiatan offair lainnya: Rp 4.500.000 nett (empat juta lima ratus ribu rupiah)
  • Kegiatan workshop Creative Writing fullday: Rp. 9.500.000,- (sembilan juta lima  ratus ribu rupiah)
Setelah semua clear tak lupa saya foto-foto sebentar sama Raditya Dika hehe. Abis itu saya nggak langsung balik sih, kita nungguin sampe acara Metro TV kelar ternyata sampe malam haha. Akhirnya saya nongkrong sama sopirnya Raditya Dika di teras museum deh hehe. Saya lupa namanya, tapi orangnya asik kok diajak ngobrol.
Foto bareng Raditya Dika di Museum Arsip Nasional
Oiya saya waktu itu di Jakarta sekitar 1 mingguan, banyak jalan-jalannya sih daripada butuhnya. Soalnya butuhnya kan cuma cari tanda tangan manager Raditya Dika doang haha. Perlu diketahui juga, jarak tanda tanggan kontrak dengan hari H event saya itu kurang lebih sekitar 3 bulanan, biar nggak mepet-mepet banget. Namun 3 bulan tersebut saya nggak santai-santai doang sih, saya masih disibukkan mulai transfer uang muka ke manager Raditya Dika dan membelikan tiket pesawat mereka berdua yang akhirnya tetap saya kasih pesawat Garuda Indonesia namun cuma economy class hehe.
Setelah menunggu sekian bulan akhirnya hari H event saya dimulai juga. Ini berarti saya juga harus perang dengan manager Raditya Dika hehe. Banyak banget perdebatan antara saya dengan Wira Arifin mulai dari riders hingga rundown acara. Sore hari saya berangkat ke Juanda Surabaya untuk menjemput Raditya Dika. Sebelum berangkat saya dibekalin handycam anak-anak dokumentasi untuk dipake ngambil video Raditya Dika selama perjalanan sampe ke Kediri atau bahasa kerennya semacam VLOG gitu lah hehe.
Namun setelah Raditya Dika sampe di bandara, eh dia nggak mau diambil gambarnya haha. Nganggur deh ini handycam haha. Mungkin waktu itu Raditya Dika lagi sm*king kali ya jadi nggak mau direkam hehe. Secara gitu loh, Raditya Dika merupakan public figur yang setiap gerak-geriknya selalu dipantau banyak orang. Mulai dari aktivitas keseharian dari Raditya Dika, pacar Raditya Dika, biografi Raditya Dika , bahkan sampe agama Raditya Dika juga dicari hehe. oiya saya juga meminta fotocopy KTP Raditya Dika juga, jadi tahu deh agama dia apa. Tapi salut deh sama Raditya Dika, kalian pasti juga belum pernah lihat kan si Raditya Dika sm*king? Kalau saya sih sudah hehe. Sorry nggak penting banget ya haha.
Setelah bertemu Raditya Dika dan Wira Arifin kami langsung bergegas menuju mobil karena teman-teman sudah siap menunggu di hotel. Ada sesuatu yang lucu banget waktu perjalanan menuju Kediri. Jadi ceritanya nih waktu jemput Radit pakai mobil yang nggak SNI banget dah pokoknya haha. Nah di jalan Raditya Dika terlihat ngeluh banget gitu, tiap lewat jalan berlubang gitu mobil selalu bunyi "glodak" dan sangat mengganggu Radit yang saat itu sedang istirahat di mobil. Perlu diketahui para entertainer atau public figur benar-benar memanfaatkan waktu luang di perjalanan seperti ini untuk beristirahat, mengingat jadwal mereka yang selalu full. Oleh karena itu saya sempat merasa berdosa karena bawa mobil yang nggak layak banget hehe.
Waktu itu kami memesan hotel Merdeka Kediri, yang menurut riders Raditya Dika sih itu hotel nggak layak karena bukan bintang 4 haha. Karena demi menghemat budget, mau nggak mau Raditya Dika harus menginap di hotel Merdeka. Selain itu kami cuma memsan 1 kamar dengan tipe twin bed, padahal Raditya Dika mintanya dua Kamar (1 kamar untuk Raditya Dika dan 1 kamar lagi untuk Wira Arifin).
Kami sampe hotel Merdeka sekitar pukul 12 malam tapi nggak langsung menuju kamar sih. Jadi kami semua, mulai dari teman-teman panitia sampai Raditya Dika dan Wira Arifin nongkrong di lobi hotel. Disitu pikiran saya sudah kemana-mana, gimana ntar kalau mereka marah gara-gara kamar nggak sesuai riders. Jadi sambil menghisap rokok saya juga lagi memikirkan jawaban apa yang tepat supaya pihak Raditya Dika bisa menerima 1 kamar yang kami pesan tersebut. Akhirnya saya menemukan jawabannya juga, kemudian karena sudah larut malam akhirnya tiba saatnya saya memberitahu pihak Raditya Dika kalau kami cuma menyediakan 1 kamar doang karena kamar yang lainnya sudah full. Sesuatu yang nggak saya inginkan akhirnya terjadi juga haha, si Wira Arifin marah banget ngomel-ngomel kayak ibu-ibu lagi gosip. Saya cuma bisa diam sambil memberikan alasan-alasan tambahan yang sebenarnya cuma rekayasa doang hehe. Kalau Raditya Dika sendiri sih cuma diam doang, santai sih menurut saya si Raditya Dika orangnya. Akhirnya setelah berdebat lama akhirnya mereka mau juga tidur dalam 1 kamar yang sudah kami pesan tadi. Setelah Raditya Dika masuk ke kamar, kami juga balik untuk beristirahat dan mempersiapkan acara puncak besok.
Sekitar jam 7 pagi saya kembali bergegas menuju hotel Merdeka hendak menjemput Raditya Dika menuju venue yang berada di kampus saya. Eh.. Sampe hotel ternyata eh ternyata si Raditya Dika lagi asyik nostalgia sama Hariono, salah satu teman kuliah Raditya Dika di Australia yang berasal dari Kediri. Buat kalian yang sudah pernah membaca atau melihat film Raditya Dika yang berjudul Kambing Jantan pasti sudah nggak asing lagi dengan yang namanya Hariono ini. Ternyata Hariono itu berwajah chinese, beda banget sama Edric Tjandra pemeran Hariono dalam film Kambing Jantan. Waktu itu Hariono datang ke hotel kalau nggak salah ditemani istrinya gitu.
Setelah si Hariono berpamitan, ganti kami yang maju ke mejanya Raditya Dika. Debat berikutnya segera dimulai haha. Kali ini terkait masalah rundown, di rundown yang dulu sempat saya kirim ke Wira Arifin lewat email tertulis bahwa Raditya Dika stand up comedy dulu baru kemudian sesi meet & greet. Namun sebenarnya rundown tersebut belum sepenuhnya fix, saya kirim cuma sebagai syarat doang. Dan ternyata rundown saya ganti menjadi meet & greet dulu baru kemudian stand up comedy. Secara sekilas mungkin rundown tersebut terlihat agak anti mainsteam sih tapi kami punya alasan kuat yang tidak bisa saya jelaskan disini terkait kenapa harus meet & greet dulu baru kemudian stand up comedy.
Dari sini kemudian Wira Arifin kembali mempersalahkan. Dia meminta rundown seperti yang awal waktu saya kirim via email tersebut. Saya pun bingung lagi dan lagi-lagi bingung haha, jika saya turutin apa kata manager Raditya Dika ini otomatis rundown yang sudah fix mau nggak mau harus dirombak dan yang pasti melibatkan banyak pihak mulai dari MC dan talent lainnya. Sumpah debat kali ini lebih lama daripada debat tadi malam masalah kamar hotel. Sambil kordinasi dengan teman-teman di stage lewat telepon, saya beberapa kali dinasehatin Mas Yoga. Mas Yoga merupakan bodyguard yang saya sewa untuk mengamankan dan mendampingi Raditya Dika. Dia juga tak lelahnya memotivasi saya agar tetap semangat menghadapi para manager artis yang berlaku sewenang-wenang pada kita. Mas Yoga juga beberapa kali bercerita tentang pengalamannya mendapati manager artis yang semena-mena seperti ini, karena Mas Yoga juga orang EO dan juga sering menjadi bodyguard artis waktu show di Kediri. Makanya dia bisa berbagi cerita seperti ini.
Akhirnya setelah sedikit berdiskusi dengan teman-teman di stage via telepon akhirnya kita nurut apa kata manager Raditya Dika, yakni stand up comedy dulu baru kemudian meet & greet. Selagi saran dari manager Raditya Dika ini nggak merugikan kita sih why not? Mungkin cuma masalah kordinasi dengan beberapa tim saja dan alhamdulillah nggak ada masalah.
Setelah semua clear kami bergegas menuju mobil untuk berangkat menuju kampus. Diperjalanan sengaja saya melewati Jl. Urip Sumoharjo Kediri karena si Wira Arifin mau saya tunjukin sebuah Hotel Insumo Palace yang sedang di tutup dengan garis polisi sambil saya berkata pada dia, "ini loh mas sebenanrnya hotel bintang 4  yang rencananya saya booking 2 kamar buat Radit dan Mas Wira, sedang ditutup gara-gara ada sengketa. Makanya saya mendadak booking hotel yang tadi malam itu". Dan si Wira Arifin pun sambil ngangguk-ngangguk mengiyakan ucapan saya tadi wkwkwk.
Setelah sampe kampus suasana sudah ramai banget, ABG-ABG dan juga fans Raditya Dika sudah menunggu di depan stage. Kami pun langsung menuju ruang artis sambil menunggu Raditya Dika perform. Beberapa teman saya pengen bertemu Raditya Dika untuk minta tanda tangan dan mencoba masuk ke ruangan namun terhalang Mas Yoga di depan pintu. Akhirnya saya keluar sambil meminta buku yang hendak ditanda tangani oleh Raditya Dika. Waktu itu kebetulan novel Raditya Dika yang berjudul Manusia Setengah Salmon juga baru diterbitkan, jadi rame banget teman-teman ataupun fans yang minta tanda tangan Raditya Dika di covel novel Manusia Setengah Salmon tersebut.
Dan akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba, Raditya Dika stand up diatas panggung juga. Nggak lama sih mungkin sekitar 30 menit. Dan audiens menyambutnya dengan sangat antusias banget, mungkin baru pertama kalinya sih Raditya Dika perform di Kediri. Selain itu juga pada saat itu rating Raditya Dika juga lagi mulai naik-naiknya atau bahasa gaulnya lagi ngehits-ngeitsnya hehe. Baca juga: Masih yakin sukses jualan di Instagram?
Ini waktu Raditya Dika lagi stand up comedy di kampus saya
Setelah si Raditya Dika turun panggung, kami lanjut lagi menuju aula di lantai 4 tempat dimana meet & greet digelar. Disana para audiens yang mengikuti meet & greet sudah menunggu. Disitu saya melihat Raditya Dika sudah kelihatan capek banget karena banyaknya audiens yang ikutan meet & greet. Raditya Dika waktu itu ibarat patung yang dijadikan objek foto oleh audiens haha. Kemudian Wira Arifin menghampiri saya menanyakan prosedur mengikuti meet & greet ini seperti apa? Kok pesertanya banyak banget. Saya jawab saja diseleksi. Padahal kenyataannya nggak, namun saya nggak bisa bercerita banyak disini hehe.
Bahkan menurut saya masih lama meet & greetnya daripada stand up comedy haha. Setelah satu per satu peserta berfoto dengan Raditya Dika. Akhirnya saya meminta MC untuk membawa Raditya Dika ke ruang talent untuk pembayaran fee. Setelah semua clear kami langsung menuju lift menuju bawah dan langsung balik ke Surabaya menuju bandara Juanda. Dibawah sudah banyak fans yang mengelilingi dan menghadang mobil kami, untung saja tim keamanan dengan sigapnya mengamankan kami. Padahal Raditya Dika dan Wira Arifin juga belum sempat saya kasih makan siang haha. Soalnya saya pengen sesegera mungkin istirahat dan nggak mau berlama-lama ketemu manager Raditya Dika haha. Takut komplain kemana-mana lagi haha.
Akhirnya setelah dikelilingi para fans yang saya lihat kelakuannya sudah seperti zombie sambil merengek-rengek, kami bisa otw juga dari venue. Saya kira sudah nggak ada masalah dan pikiran plong banget bisa keluar dari venue, eh di jalan ternyata masih ada fans nekat yang mengejar mobil kami. Dua orang cewek mengendarai motor mencoba menghadang mobil kami. Namun kami jalan terus saja karena saya pengen Raditya Dika segera sampe bandara. Eh, si Radit nyuruh berhenti dan pengen nemuin fans nya tadi, ya akhirnya kami berhenti deh. Ternyata mereka minta foto-foto sama Raditya Dika. Setelah kelar, cus deh ke Surabaya. Tak lupa saya mengucapkan say goodbye pada Wira Arifin sang manager super perfect dan profesional banget hehe.
Sebenarnya semua tadi merupakan sebuah ilmu yang nggak akan pernah saya jumpai dalam bangku kuliah. Sebuah pengalaman yang nggak akan pernah saya lupakan, sebuah momen langka dimana saya bisa ngerjain para artis hehe.
Demikian dosa-dosa saya terhadap Raditya Dika, mulai dari menjemput menggunakan mobil yang kurang layak pakai, hotel beserta kamar yang nggak sesuai harapan, nggak ngasih makan siang, dan dosa-dosa kecil lainnya yang nggak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga tulisan saya ini dapat membuka mata kita semua bahwa entertainment nggak seindah yang kalian bayangkan. 

12 komentar

Wanjirr ini semacam pengakuan terlarang ya :o btw jangan lupa sodaqoh biar dosanya ke apus wkwkwk

wqwqwqwqwq pengalaman nih gan? :D

wow life is adventure... itu pengalaman hidup keren, thanks sudah sharing :)

cocok jg nih ye kalo buat ftv wkwk

iya gan, pengalaman pribadi hehe


EmoticonEmoticon