Mesin Penetas Telur Jangan Dibuat Ribet

Beternak merupakan tradisi keluarga saya turun temurun. Entah itu ternak ayam, bebek, burung, sapi, kambing, atau mungkin ternak manusia hehe. Apalagi tempat tinggal saya yang berada di daerah pedesaan juga sangat mendukung untuk beternak. Rata-rata pekerjaan utama warga di kampung saya adalah bertani dan berternak. Kebetulan keduannya juga saya lakoni, meskipun alakadarnya saja atau bisa dibilang profesi abal-abal hehe. Anehnya keluarga besar saya rata-rata memang dibesarkan dari hasil bertani namun saya nggak ahli banget dalam bertani. Ibarat pepatah buah jatuh sangat jauh dari pohonnya, haha.
Beberapa hewan yang pernah saya pelihara diantaranya adalah ayam, bebek, entok, burung, kelinci, kambing, dan sapi. Namun yang saat ini saya pelihara tinggal ayam, entok, kambing, dan burung. Lainnya sudah ada yang dijual. Baca juga: Cara gila menjadikan pleci ngalas
Oke deh, kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya tentang beternak unggas yang akhir-akhir ini saya garap secara serius. Di rumah saya beternak ayam bangkok, ayam kampung, dan entok. Awalnya saya mendapatkan bibit ayam dari teman saya dan ada juga yang saya dapatkan dari kakek saya. Dalam meningkatkan jumlah peliharaan saya tadi, khususnya bebeapa unggas yang saya sebutkan tadi saya akhirnya membeli mesin penetas telur otomatis dari teman saya dengan harga Rp.299.000, murah banget hehe. Padahal mesin ini bisa dikatakan masih baru alias belum pernah dipake teman saya, kemudian dijual gara-gara dia masih punya mesin tetas satunya.padahal di dulu beli dengan harga sekitar Rp.500.000.
Awalnya saya sangat kesulitan dalam menggunakan mesin penetas telur ini, yang paling sulit menurut saya mengoperasikan thermostat. Thermostat ini merupakan komponen yang sangat vital pada mesin penetas telur. Thermostat bertugas memutus dan menyambung aliran listrik dalam mesin penetas telur. Maksudnya adalah jika suhu yang ada pada mesin tetas sudah melebihi yang kita harapkan, thermostat secara otomatis akan memutus aliran listrik. Ini berarti lampu dalam mesin penetas telur juga akan mati. Jika lampu sudah dalam keadaan mati, otomatis suhu dalam mesin penetas telur akan turun. Begitu juga pada saat suhu sudah terlalu rendah, secara otomatis thermostat akan menghubungkan aliran listrik yang tadi sempat terputus karena suhu yang berlebihan.
Jika kita mempelajari cara menetaskan telur lewat mesin penetas dari beberapa artikel atau buku petunjuk memang terlihat sulit banget dan banyak banget peraturannya hehe. mulai dari kondisi mesin harus steril, telur harus dikasih antibiotik atau antiseptika atau apalah-apalah, kemudian usia telur harus masih muda, rajin mencatat perkembangan telur setiap hari, suhu mesin penetas telur juga harus diperhatikan, dan rajin memutar telur sehari 3 kali. Baca juga: Rejeki dari si kambing
Hasil dari menetaskan telur enthok
Tapi semua itu tadi bukan merupakan jaminan telur akan menetas 100%. Yang saya lakukan pada saat menempatkan telur ke dalam mesin penetas telur lebih pada pengaturan suhu saja. Suhu yang saya pakai antara 37-39 derajat celcius. Kondisi mesin penetas juga nggak steril-steril banget, standar lah. saya juga jarang memutar telur sehari 3 kali sesuai yang dianjurkan tadi. Usia telur yang saya masukkan ke mesin penetas malah sudah sangat tua alias tinggal menetasnya saja. Namun alhamdulillah semuanya berhasil menetas dengan lancar sesuai prediksi.
Awal-awal saya mencoba memasukkan sekitar 5 telur entok kedalam mesin tetas. Usia telur tersebut kurang lebih sekitar 20 hari. Kemudian disusul dengan telur ayam bangkok juga sekitar 5 butir telur yang masih berusia sekitar 8 harian, dan saya berhasil.


EmoticonEmoticon