Yahudi Dibalik Runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani

Islam muncul sebagai kekuatan yang besar, yang tidak dikehendaki oleh Yahudi. Kaum Yahudi menyebar ke seluruh wilayah kaum Muslimin untuk menyulut benih-benih perselisihan, pemberontakan dan perpecahan. Mereka berhasil mendirikan beberapa sekte sesat di tengah masyarakat Muslim dan beberapa gerakan sesat bawah tanah, yang bertujuan melemahkan kekuatan ummat Islam. Setelah kaum Muslimin melemah, dan superioritas dunia berada di tangandunia Kristen Eropa, orang Yahudi memindahkan kegiatan mereka ke negeri-negeri itu, terutama Inggris dan Perancis. Dan awal abad ini kekuatan dunia berbalik ke tangan Amerika dan Rusia. Maka, kegiatan Yahudipun berpindah ke sana.
Akan tetapi, meskipun keadaan kaum Muslimin sangat lemah pada masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid, orang Yahudi tidak berhasil membeli bumi Palestina dengan kekayaan yang mereka miliki. Bahkan Sultan Abdul Hamid, seorang penguasa kerajaan Turki Utsmani yang dikambinghitamkan oleh para sejarawan, telah menunjukkan sikapnya yang tegas terhadap Theodore Herzl, pemimpin gerakan Zionisme Internasional kala itu, yaitu pada akhir abad ke 19. Sultan Abdul Hamid menunjukkan pendiriannya yang tegas dengan menolak kehadiran Herzl untuk memberikan suap kepada Sultan, agar beliau mengizinkan orang Yahudi hijrah ke Palestina. Kemudian Sultan Hamid mengirim catatan khusus kepada Herzl lewat kawannya Neolinsky. Baca juga: Persekongkolan Yahudi terhadap dunia Kristen
Sebagaimana ditulis sendiri oleh Herzl dalam buku hariannya halaman 35, yang dimuat dalam media Pusat Studi PLO. Sultan pesan kepada Neolinsky sebagai berikut :
"Jika Herzl benar-benar kawanmu, sebagaimana Anda adalah kawanku juga, maka tolong beritahukan agar Herzl jangan sekali-kali meneruskan langkahnya, karena aku tidak akan menjual sejengkal pun wilayah kerajaanku. Kerajaanku bukanlah milik pribadiku, melainkan milik seluruh kaum Muslimin. Dan untuk memperoleh itu, mereka telah mengorbankan harta benda dan hidupnya. Oleh karena itu, kami akan mempertahankan bumi itu dengan darah kami pula, dari setiap usaha yang dilakukan oleh pihak luar untuk merebutnya. Pasukan kami telah terjun dalam medan perang di Syiria dan Palestina. Mereka rela gugur satu demi satu, karena tidak ada seorang pun dari prajurit kami yang mau menyerah kepada musuh. Mereka lebih senang mati membela kehormatan Islam daripada hidup dalam kenistaan. Kerajaan Turki bukanlah milik pribadiku, melainkan milik bangsa Turki. Tanah sejengkal pun tidak boleh dijarah orang. Orang Yahudi supaya menyimpan saja jutaan uang miliknya itu. Seandainya kerajaan ini bisa dihancur-luluhkan orang Yahudi boleh mengambil tanah Palestina dengan cuma-cuma. Akan tetapi harus diingat, bahwa kerajaan kami tidak pernah akan mundur dari tekad, yang telah kami pegang selama ini. Orang Yahudi tidak akan bisa menghancurkan kami, sebelum mereka bisa melangkahi mayat-mayat kami lebih dulu."
Sultan Abdul Hamid II
Apa yang terjadi setelah orang Yahudi mengetahui ketegaran sikap Sultan Abdul Hamid? Ternyata mereka tidak kehilangan akal. Dengan menggunakan orang Yahudi warga Turki sendiri yang bergerak di bawah tanah, yaitu wilayah Turki yang sekarang menjadi bagian dari wilayah Yunani, mereka berhasil menumbangkan kekuasaan Sultan Abdul Hamid. Sultan sendiri akhirnya mengetahui sebab-sebab pokok yang membuatnya terguling. Hal ini bisa dilihat dari sepucuk surat Sultan kepada Syeikh Mahmud Abu Syamat di Damaskus. Dikatakan dalam surat itu, bahwa Sultan mendapat tawaran dari para tokoh Yahudi berupa sejumlah uang emas, dengan imbalan beliau mengizinkan orang-orang Yahudi hijrah ke Palestina, yang akhirnya mereka akan mendirikan sebuah negara di sana. Prof. Sa'id Al-Afgani mengupas seluk beluk dokumen itu dalam majalah Al-Araby edisi 169 Desember 1972 sebagai berikut :
"Syeikh Mahmud Abu Syamat adalah sesepuh kelompok Tharikat Sadzaly Yashrithy. Dia adalah penerus pertama yang menggantikan pimpinan Tharikat itu setelah pendirinya Syeikh Ali Al Yashrithy meninggal dunia. Raghib Ridha, yaitu kepala urusan istana Sultan adalah murid Syeikh Syamat. Setiap kali berkunjung ke Istanbul, Syeikh Syamat selalu menginap di rumah muridnya itu. Sultan menanyakan, siapa yang menjadi tamu dan menginap di kediaman kepala urusan istananya itu. Setelah Raghib Ridha menjelaskan siapa Syeikh Syamat itu, Sultan merasa tertarik dan bermaksud mengundangnya ke istana. Kemudian Sultan akhirnya memutuskan untuk menjadi muridnya, diikuti oleh para pemuka masyarakat Istanbul, para pejabat pemerintah kerajaan Turki dan para prajuritnya. Ketika Sultan digulingkan dan diasingkan dalam sebuah istana yang terletak di daerah Salonika, ternyata salah satu penjaga di istana pengasingan itu adalah seorang murid Syeikh Syamat juga. Dengan surat melalui orang tersebut, Sultan diam-diam mengadakan hubungan korespondensi dengan Syeikh Abu Syamat. Surat itu tetap disimpan oleh Syeikh Abu Syamat dan anak-anaknya. Baru pertama kali inilah surat dokumenter penting tersebut dimuat dalam sebuah buku. Berikut ini adalah lembaran surat tersebut :
Itulah lembaran pertama surat Sultan Abdul Hamid kepada Syeikh Abu Syamat, yang ditulis dalam bahasa Turki.
Tulisan di atas adalah lembaran kedua. Berikut ini adalah salinan surat Sultan Abdul Hamid dalam bahasa Arab, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan bebas.
YA HUWA
Bismillâhirrahmânirrahîm
Segala puji bagi Allah, dan salam sejahtera kami panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, segenap keluarganya, dan para sahabat sekalian hingga Hari Pengadilan. Saya tulis surat ini kepada yang mulia Syeikh Tharikat abad ini Ali Sadzaly, cahaya Ruh dan kehidupan 'Syeikh Mahmud Effendy Abu Syamat'. Kami akan menyambut uluran kedua tangan beliau yang mulia, dengan mengharapkan do’a restu beliau. Setelah menghaturkan rasa hormat perlu saya sampaikan, bahwa surat Anda tanggal 22 Mei tahun ini telah saya terima dengan selamat. Alhamdulillah saya ucapkan, bahwa Anda dalam keadaan sehat walafiat. Tuanku yang mulia, dengan Taufik dan Hidayah Allah ta'ala, saya bisa melakukan amalan wirid Tharikat Sadzaly siang dan malam. Saya perlu menyampaikan bahwa hingga saat ini saya terus membutuhkan panggilan batin anda. Selain itu, ada masalah yang perlu saya sampaikan kepada Anda dan orang yang bisa diajak berpikir seperti Anda, berkenaan dengan masalah yang sangat penting berikut ini, sebagai amanat perjalanan sejarah. Saya meninggalkan kekhalifahan bukan karena suatu sebab tertentu, melainkan karena adanya tipu daya dengan berbagai ancaman dari tokoh-tokoh Organisasi Persatuan yang dikenal dengan sebutan Cun Turk, sehingga Sadzaly terpaksa saya meninggalkan kekhalifahan itu. Baca juga: Komunisme dan Nazisme itu sama saja
Sebelumnya, Organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang, agar saya menyetujui dibentuknya sebuah negeri nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina. Saya tetap tidak menyetujui permohonan berulang-ulang yang memalukan itu. Akhirnya mereka menjanjikan uang sebesar 150 juta poundsterling emas. Saya tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya menjawab dengan kata-kata, 'Seandainya kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini, aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri. Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah Islam yang telah lama dirintis oleh nenek-moyangku, para Sultan dan khalifah kerajaan Turki Utsmani. Sekali lagi, aku tidak akan menerima tawaran kalian.'
Setelah mendengar dan mengetahui sikap dan jawaban saya itu, mereka dengan kekuatan rahasia yang mereka miliki memaksa saya menanggalkan kekhalifahan, dan mengancam akan mengasingkan saya di Salonika. Maka terpaksa saya menerima keputusan itu daripada menyetujui permintaan mereka. Saya masih bersyukur kepada Allah, karena saya menolak untuk mencoreng kerajaan Islam Turki, dan dunia Islam pada umumnya dengan noda abadi yang diakibatkan oleh berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina. Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan mengulang-ulang rasa syukur kepada Allah ta'ala, yang telah menyelamatkan kita dari aib besar itu. Saya rasa cukup di sini apa yang perlu saya sampaikan dan sudilah Anda dan segenap ikhwan menerima salam hormat saya. Guruku yang mulia, mungkin sudah terlalu banyak yang saya sampaikan. Harapan saya, Anda beserta jamaah yang Anda bina bisa memaklumi semua itu."
Wassalamu’alaikum wr. wb.
22 September 1909
ttd

Pelayan Kaum Muslimin (Adul Hamid bin Abdul Majid)


EmoticonEmoticon