Ini Namanya Nomaden Apa Gelandangan?

Ada yang tahu nggak nomaden itu apa? Mungkin kalian sudah ada yang pernah mendengar juga. Menurut definisi dari Wikipedia, Bangsa Nomaden atau bangsa pengembara, adalah berbagai komunitas masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang pasir atau daerah bermusim dingin, daripada menetap di suatu tempat. Masyarakat yang berpindah-pindah tempat tetapi bukan di padang pasir atau daerah bermusim dingin, disebut sebagai kaum gipsi. Baca juga: Cari bini harus yang cantik
Jadi dapat diasumsikan nomaden adalah sifat seseorang yang suka berpindah-pindah tempat. Dan sifat tersebut yang pernah saya lakukan dulu waktu jaman SMA kayaknya. Mungkin itu saya lakukan karena beberapa faktor yang mungkin semua orang pernah ngalamin. Pertama, males dengan kehidupan di rumah. Di usia tersebut mungkin bisa dibilang dengan masa-masa transisi dan labil, di rumah tiap hari kegiatannya Cuma disuruh ortu beli sembako ke toko, cuci piring, bersihin rumah, dll. Maklum saya adalah anak tunggal, jadi semua pekerjaan rumah saya yang mengerjakan. Mungkin waktu kecil saya pernah trauma jika nggak mau disuruh orang tua, khususnya ibu saya. Pasti saya akan dikejar sambil membawa kayu dan jika ketangkep saya bakal disamblek (red: Jawa). Berawal dari situ saya memutuskan untuk hidup di pondok pesantren yang juga kebetulan dekat dengan SMA saya.
Nah, disini saya menemukan kebebasan juga akhirnya. Bisa dikatakan dalam kehidupan pesantren ini saya menjadi anak yang nakal hahaha. Padahal kan di pesantren? Bukannya malah jadi anak yang baik dan soleh? Begini penjelasannya, di pesantren pengawasan dari orang tua pastinya perkurang dong, di sana saya punya lingkungan baru, kegiatan baru, dan semua yang serba baru, kecuali baju yang gak pernah baru. Bisa saya katakan di pesantren tersebut pengawasannya pada jaman dulu kurang begitu intensif, beda dengan sekarang yang sudah sangat intensif. Di sana saya mulai berani untuk menghisap nikotin hehe. Disana juga saya juga mulai tahu dunia luar seperti apa.
Bayangkan saja, bermodal nekat, meskipun gak nekat-nekat banget sih, tiap ada event konser, nonton bareng, atau apalah yang intinya hiburan saya selalu hadir. Meskipun lokasi tersebut berada diluar kota kami selalu hadir. Bersama segerombol teman saya yang juga anak pesantren saya berangkat secara diam-diam. Ini trik saya untuk mengelabuhi pengurus. Pertama, keluar dari pesantren masih menggunakan sarung, kemudian di tengah perjalanan menuju perempatan lampu merah yang kami jadikan tempat untuk menumpang kendaraan, kami mulai berganti kostum. Yang awalnya masih menggunakan sarung dicopot dan ganti menggunakan celana jeans. Kalau saya biasanya memakai celana jean pendek yang ujungnya sobek-sobek biar keren hehehe.
Setelah sampai di perempatan kita menunggu kendaraan yang sekiranya cocok untuk tumpangan kita menuju venue. Transportasi andalan kami adalah truck dan mobil pick up. Pernah suatu ketika kami hendak meliat konser salah satu band nasional di sebuah stadion. Kejadiaanya waktu itu kita hendak mencari tumpangan, kebetulan di depan sudah ada truck yang berjalan pelan. Akhirnya teman-teman segera bergegas meloncat ke box truck tersebut, nah giliran saya ketinggalan dan saya lari seperti dikejar anjing. Diatas sudah ada temen saya yang menawarkan tangannya untuk saya tangkap dan jika saya gagal menagkap tangan teman saya resikonya saya harus merelakan nyawa saya melayang karena dibelakang truck masih ada gandengannya yang sudah sangat siap melindas tubuh saya yang kurus kerempeng ini hehe. Eh bener juga, saya nggak berhasil menggapai tangan teman saya. Tapi sebelum saya jatuh ke aspal temen saya dengan cekatan agak keluar dari box dan langsung menangkap teman saya. Akhirnya ketangkep juga dan gak jadi mati deh hehe dan saya bergelantungan seperti spiderman. Baca juga: Jangan diskriminasi kaum brewok
Pernah juga suatu ketika setelah menyaksikan konser dan kebetulan juga diliput live di stasiun TV nasional. Saya memutuskan untuk tidak langsung balik ke pesantren, akhirnya kita memutuskan tidur di teras sebuah mushola yang ada disekitar venue.  Dingin banget kebetulan pada waktu itu juga musim hujan. Dan saya Cuma berselimut koran mirip seperti pemulung haha. Subuh pun tiba dan saya dibangunin oleh ta’mir mushola tersebut untuk sholat subuh, meskipun kelakuan nakal tapi jangan sampe sholat lima waktu ketinggalan dan kami langsung bergegas mengambil air wudhu untuk segera sholat. Setelah sholat subuh kami bergegas lagi menuju venue karena pagi hari juga bakal ada konser lagi dan masil diliput /stasiun TV nasional. Sambil menunggu konser mulai kami memutuskan untuk mencari sarapan, berhubung uang saya menipis saya mendekati anak punk yang ada di perempatan, dan saya ditawarin ikut sarapan juga, sebungkus rame-rame hehe.
Setelah saya lulus SMA saya melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Disini network saya semakin luas berskala nasional hehe, saya semakin sering main ke luar kota. Demi memuluskan langkah saya untuk main ke luar kota, saya memutuskan untuk menjual motor modifikasi saya karena tidak layak untuk perjalanan jauh selain itu motor tersebut juga banyak masalah internal dan eksternal hehe. Kemudian saya membeli motor baru supaya lebih aman jika perjalanan ke luar kota.
Usai Kopdar di Jalur Lintas Selatan
Semakin sering main ke luar kota entah itu Cuma sekedar kopdar atau liat konser, saya juga semakin jarang pulang ke rumah orang tua. Kebetulan pada saat saya menempuh kuliah saya mengontrak rumah. Dalam benak pernah merasa iba yang pastinya kesepian di rumah cuma berdua saja dan nggak ada yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah, di lain sisi mungkin mereka juga bahagia juga sih karena mereka berdua bak penganten baru yang sedang bulan madu hehe. Selain itu orang tua juga nggak begitu protektif kok sama saya mungkin pikiran mereka kan saya sudah dewasa mungkin sudah bisa jaga diri dan saya jarang pulang ke rumah ada untungnya juga buat mereka, porsi masak dan uang saku buat saya jadi berkurang deh hehe. Karena memang jarang banget minta uang ke orang tua kalau memang nggak kepepet banget.
Intinya sih jangan tanggung-tanggung deh berekspresi waktu masih muda kita. Cukup tutup telinga kira kita dan buka lebar pintu kanan kalian dengan cemoohan orang-orang yang nggak suka dengan cara kita berekspresi. Emangnya mereka yang kasih kita makan? Emangnya mereka yang ngasih duit? Emangnya mereka yang jamin kita masuk surga? Anggap saja pengalaman yang pernah saya lakukan tersebut sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Udah gitu aja sih...

Demikian artikel YAOL BREWOK kali ini semoga bermanfaat.

1 komentar


EmoticonEmoticon